Pohon Angker di Belakang Sekolah

  Pohon Angker di           Belakang Sekolah

Di sebuah sekolah kecil di pinggir hutan tropis, ada pohon besar yang berdiri sendirian di belakang pagar sekolah. Pohon itu tinggi menjulang, batangnya hitam pekat seperti terbakar, dan daunnya selalu bergoyang meski angin tak bertiup. Anak-anak sekolah bilang pohon itu angker, konon dulu ada orang hilang di sana. Tapi, lima sahabat kelas tiga SMA tak percaya cerita itu. Mereka: Andi, Budi, Cakra (tiga cowok pemberani), serta Dita dan Eka (dua cewek yang penasaran).


Suatu sore, setelah ujian selesai, mereka berkumpul di halaman sekolah yang asri. Pohon kelapa dan bangunan berwarna hijau-oranye mengelilingi mereka, tapi pohon angker itu terlihat menyeramkan di balik pagar. "Ayo kita buktikan! Malam ini kita ke sana," ajak Andi, pemimpin kelompok. Budi ragu, "Gila, katanya pohon itu punya roh penjaga hutan yang marah." Tapi Dita tertawa, "Dasar penakut! Kita bawa senter dan HP aja." Eka mengangguk, meski hatinya berdebar.


Malam tiba. Langit mendung, angin berhembus pelan. Mereka melompat pagar belakang sekolah, mendekati pohon itu. Cahaya bulan samar-samar menerangi batang pohon yang berlubang seperti mata. "Lihat, kayak ada bayangan," bisik Cakra, suaranya gemetar. Tiba-tiba, daun pohon bergoyang kencang. Dari balik batang, terdengar suara bisik-bisik seperti orang bergumam. "Siapa itu?" tanya Eka panik.


Andi maju, tapi kakinya terpeleset di akar pohon yang tiba-tiba muncul dari tanah. "Aduh!" jeritnya. Saat Budi membantu, angin menderu deras. Bayangan hitam panjang melintas di antara ranting. Dita menyalakan senter HP-nya, dan apa yang mereka lihat membuat darah mereka membeku: wajah pucat seorang pria tua, matanya kosong, tergantung di cabang pohon. Bukan hantu sungguhan, tapi... bukan juga. Itu seperti ilusi, tapi nyata sekali.


Mereka berlari kembali ke pagar, tapi Eka tersandung. Saat bangun, tangannya belepotan lumpur hitam yang berbau busuk. "Ini apa?!" jeritnya. Cakra melihat ke belakang—pohon itu seolah tertawa, rantingnya bergoyang seperti tangan yang meraih. Mereka akhirnya lolos, terengah-engah di halaman sekolah. Malam itu, mereka janji tak pernah cerita ke siapa pun. Tapi sejak saat itu, setiap lewat pohon itu, mereka merasa diawasi. Dan Eka? Tangan kirinya tak pernah sembuh, selalu dingin seperti pegangan hantu.


Apa yang sebenarnya ada di pohon angker itu? Mungkin roh penjaga hutan masih menunggu pengganti. Jangan pernah coba sendiri!



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ayam Goreng yang Hilang