Sepupuku adalah Pacarku

 Sepupuku adalah Pacarku


Di sebuah desa hijau yang damai, bernama Desa Melati, tinggallah seorang gadis bernama Sari. Sari berusia 20 tahun, bekerja sebagai guru SD di sekolah desa. Ia gadis sederhana dengan rambut ikal panjang, senyum lebar, dan hati yang penuh kebaikan. Setiap sore, Sari suka berjalan ke sawah sambil bernyanyi pelan, menikmati angin sepoi yang membawa aroma tanah basah. Hidupnya tenang, tapi kadang ia merasa kesepian, bermimpi tentang cinta yang tulus seperti di novel-novel yang ia baca.


Suatu pagi musim kemarau, keluarga Sari ramai. Datanglah Paman Budi dari kota, bersama putranya, Rama. Rama adalah sepupu Sari yang sudah delapan tahun tidak bertemu. Dulu, saat kecil, mereka suka main kejar-kejaran di sungai belakang rumah. Rama kini 22 tahun, pemuda pekerja keras yang jadi mekanik di bengkel mobil kota. Tubuhnya atletis, kulit sawo matang, dan matanya tajam tapi lembut. Ia datang untuk libur seminggu, membantu paman di sawah.


"Sari! Kamu sudah gede ya, cantik pula," sapa Rama sambil memeluk Sari singkat. Sari tersipu, "Rama juga, udah kayak cowok kota. Duduk dulu, yuk. Sudah siap sarapan."


Sarapan pagi itu penuh tawa. Mereka cerita masa kecil: bagaimana Rama dulu jatuh ke got saat lari dari Sari. Setelah itu, Rama tinggal di rumah Sari. Hari-hari berikutnya, mereka sering bertemu. Rama bantu Sari cuci piring, atau ajak jalan ke pasar desa. "Kamu masih suka nyanyi lagu-lagu lama?" tanya Rama suatu siang, saat mereka duduk di teras sambil minum es jeruk.


Sari mengangguk, "Iya, biar hati tenang. Kamu? Pasti sibuk sama mobil-mobil." Rama tertawa, "Aku suka denger musik romantis di bengkel. Bikin kerjaan enak." Obrolan mereka hangat, seperti api unggun di malam dingin. Sari mulai sadar, Rama bukan lagi sepupu kecil yang bandel, tapi pria yang membuatnya ingin tersenyum terus.


Pagi berikutnya, Rama ajak Sari bersepeda ke bukit kecil di pinggir desa. "Ayo, Rin. Lihat pemandangan dari atas, pasti bagus," katanya. Sari setuju, pakai baju sederhana dan sandal jepit. Mereka kayuh sepeda beriringan, angin menerpa wajah. Di puncak bukit, rumput hijau membentang, dan sungai mengalir berkilau di bawah. Mereka duduk di batu besar, keringat bercucuran tapi bahagia.


"Rama, senang ya ketemu lagi," kata Sari pelan. Rama menoleh, matanya serius. "Sari, aku juga. Tapi... perasaan aku beda sekarang. Aku suka kamu, lebih dari sepupu." Sari terdiam, hatinya berbunga tapi takut. "Kita keluarga, Ma. Bagaimana kalau orang tahu?" Rama pegang tangan Sari lembut. "Kita sepupu jauh, orang tua kita saudara ipar aja. Cinta ini tulus, Sari. Aku nggak bisa bohongi hati."


Sari merasa dunia berputar. Ia juga suka Rama: suaranya yang tenang, caranya peduli. "Aku juga suka kamu. Tapi rahasia dulu, ya?" Mereka angguk, janji saling jaga. Sejak itu, hari-hari mereka manis. Curi-curi pegangan tangan saat bantu di dapur, kirim pesan malam hari, atau jalan diam-diam ke sungai. Rama cerita mimpi buka bengkel sendiri, Sari bilang ingin lanjut kuliah. Mereka saling dukung, cinta tumbuh pelan seperti embun pagi.


Tapi rahasia tak lama. Suatu hari, tetangga lihat mereka berdua di bukit, tertawa mesra. Gosip menyebar: "Sari pacaran sama sepupunya!" Orang tua Sari marah saat dengar. "Ini nggak pantas! Kalian keluarga!" bentak ayah Sari di ruang tamu. Rama dan Sari berdiri di depan, tangan saling genggam kuat.


"Pak, Bu. Kami serius. Rama baik, dia bikin Sari bahagia," bela ibu Rama yang ikut datang. Diskusi panjang, air mata mengalir. Akhirnya, ayah Sari menghela napas. "Kalian dewasa, pilih sendiri. Tapi ingat, jaga nama baik keluarga." Mereka lega, pelukan hangat menyusul.


Sekarang, Rama tinggal di desa lebih sering. Ia bantu Sari tanam bunga di taman, mereka masak bareng, dan rencanakan masa depan. Suatu malam di bawah bintang, Rama berlutut. "Sari, mau nggak jadi istriku suatu hari?" Sari menangis bahagia, "Mau, Rama. Sepupuku adalah pacarku selamanya."


Cinta mereka bukti, hati tak pandang hubungan darah. Di desa Melati, kisah Sari dan Rama jadi cerita indah, penuh harapan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pohon Angker di Belakang Sekolah

Ayam Goreng yang Hilang